Perasaan Selalu diawasi Oleh Allah S.W.T
SPESIAL KHUTBAH JUM’AT
Perasaan Selalu diawasi Oleh Allah S.W.T
Oleh. Dr. Ishak Bakari, Lc.,M.Fil.I
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوبُ إِلَيْهِ ، ونَعُوذُ باللهِ مِنْ شُرُورِأَنْفُسِنَا
ومِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ ، اِتَّقُوا رَبَّكُمْ ، اَلَّذِي خَلَقَكُمْ مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ ، وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا.
وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً.
وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامْ ، إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ، اِتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ.
وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ، أَمَّا بَعْدُ.
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ ، وَخَيْرَ الْهَدِى هَدِى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمْ،
وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالةٌ ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ
Selaku hamba Allah SWT yang Dhoif, yang lemah, yang memiliki serba keterbatasan di hadapan kemaha kuasaan dan kemaha besaran Allah SWT.
Patut bagi kita untuk senantiasa memuja dan memuji serta bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan kepada kita semua dengan nikmat itu kita masih bisa melaksanakan aktivitas, dengan nikmat itu kita masih terhitung orang-orang yang beriman, di tengah gelombang fitnah yang begitu dahsyat hari ini.
Tidak sedikit orang-orang yang berpaling dari jalan yang lurus ini disebabkan karena mereka tidak tahan, dan karena taufik dari Allah SWT kita masih bisa berada di jalan yang benar ini.
Shalawat beserta salam kita haturkan kepada nabi kita Nabi Muhammad S.A.W, Kepada para sahabatnya, para keluarganya, para pengikut setia beliau hingga يوم القيامة.
Selanjutnya selaku khotib mengingatkan kepada diri khotib sendiri dan kepada kita semua tentang wasiat Nabi S.A.W, wasiat orang-orang terdahulu, sekarang, dan orang-orang yang akan datang, yaitu tentang wasiat ketakwaan.
Marilah kita senantiasa membekali diri kita dengan ketakwaan kepada Allah SWT. Karena itulah sebaik-baik bekal menuju alam baka (alam akhirah)
Sidang jumlah yang dirahmati Allah SWT.
Salah satu hal yang akan memperkuat keimanan seseorang di tengah gelombang fitnah dan ujian yang begitu dahsyatnya di zaman seperti sekarang ini adalah menelusuri jejak-jejak generasi terdahulu Salafus Shalih untuk mempelajari bagaimana sisi-sisi kehidupan mereka, bagaimana kedekatan mereka kepada Allah SWT, bagaimana ibadah mereka bagaimana sikap-sikap mereka, dan hal yang seperti inilah yang disinyalir di dalam Al-Quran.
أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَىٰهُمُ ٱللَّهُ ۖ
“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (Az-Zumar Ayat : 18).
فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقْتَدِهْ
“maka ikutilah petunjuk mereka”. (Al-An’am Ayat : 90)
Atas dasar itulah selaku khotib dalam edisi khotbah Jum’at kali ini mencoba mengangkat sisi kehidupan generasi Salafus Shalih yang dalam hal ini sisi kehidupan atau potret kehidupan Umar bin Khattab r.a. di masa kepemimpinannya.
Suatu malam Umar bin Khattab r.a. melakukan inspeksi, ingin mengetahui kondisi rakyatnya dia mencoba untuk blusukan dan barangkali kisah ini sudah sering kita dengarkan, kita baca, bahkan sempat kita pelajari.
Tapi ini sangat menarik seperti di dunia sekarang ini. Umar bin Khattab r.a. salah satu bentuk tanggung jawab kepemimpinannya. dia sangat takut akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah dari apa yang dipimpinnya dia melakukan inspeksi, dia melakukan blusukan turun ke daerah-daerah tanpa ada awak media, tanpa ada orang-orang yang mencoba untuk meng-up popularitas dia untuk mempertahankan elektabilitas politiknya barangkali.
Umar bin Khattab r.a. hanya ditemani oleh pembantunya di keheningan malam. dia mencoba untuk melihat apakah ada rakyatnya yang kelaparan yang belum mendapatkan makanan dan seterusnya. Pada saat itu Umar bin Khattab r.a. baru saja mengeluarkan edaran karena kondisi masyarakat pada saat itu sudah mulai ada orang yang memanipulasi untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan duniawi para pedagang-pedagang susu mencampur susu dengan air untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya.
Sehingga Umar bin Khattab r.a. mengeluarkan edaran sebuah perintah isinya larangan para pedagang untuk mencampur susu dengan air. Umar bin Khattab r.a. setelah mengeluarkan edaran tersebut, dia tidak hanya mencukupkan diri untuk mendapatkan laporan dari bawahannya, dia ingin mengecek langsung di masyarakat apakah hal yang seperti ini mereka sudah lakukan, apakah disamping itu juga dia ingin mengetahui bagaimana kondisi masyarakat. Tibalah Umar bin Khattab r.a. dengan pembantunya yang bernama Aslam di dekat rumah, yang rumah itu di dalamnya penghuninya adalah seorang janda dan anak dan memiliki anak atau putri. Dia memerintahkan kepada putrinya, Wahai anakku campurkan susu ini dengan air, agar supaya kita bisa mendapatkan keuntungan berlipat ganda.
Namun anak dari ibu ini mengatakan bukankah Umar bin Khattab amirul mu’minin telah melarang untuk melakukan hal ini. Lalu ibu tadi menjawab bukankah Umar bin Khattab tidak melihat kita.? Cerita dialog ini disaksikan atau didengarkan oleh Umar bin Khattab dan pembantunya dari balik dinding . Jawaban seorang putri tadi sangat mencengangkan aku tidak ingin taat kepada hanya kepada Umar bin Khattab di saat banyak orang, sementara ketika tidak ada orang aku tidak taat.
إنكانا عمر لايانا فارابو عمر يارانا
Bila Umar bin Khattab tidak melihat kita maka sesungguhnya, ketahuilah bahwa Tuhannya Umar bin Khattab r.a sedang menyaksikan kita. Umar bin Khattab r.a terkesima dengan jawaban dari putri tadi. Lalu kemudian, dia memerintahkan kepada Aslam pembantunya untuk memberi tanda di dinding tadi agar ketika dia datang lagi dia tahu bahwa ini rumah yang semalam. Diberi tanda lah rumah ini lalu kemudian mereka berdua pulang ke istana.
Besoknya Umar bin Khattab memerintahkan kepada Aslam untuk mengecek siapa penghuni rumah itu. Aslam kembali dengan membawa berita bahwa sesungguhnya penghuni rumah itu adalah seorang janda yang memiliki anak atau putri yang belum menikah. Umar bin Khattab r.a mengumpulkan anak-anaknya dan bertanya siapa diantara kalian yang ingin menikah, Maka salah satu dari anak Umar bin Khattab yang bernama Ashim mengatakan dia siap menikah. Lalu dinikahkanlah anak dari Umar bin Khattab, anak seorang amirul mu’minin anak seorang khalifah dengan putri yang sangat jujur tadi.
Dari keturunan mereka, lahirlah seorang raja yang sangat bijaksana di Khalifah Bani Umayyah yang kita kenal sangat masyhur namanya Umar bin Abdul ‘Aziz. Beliau adalah khalifah kedelapan dari Bani Umayyah.
Sidang jumlah yang dirahmati Allah SWT.
Dari pemaparan kisah singkat di atas, Mari kita mencoba untuk mengeksplorasi untuk melihat kira-kira apa yang bisa kita petik hikmah apa yang bisa kita ambil dari kisah di atas.
Pertama sebagai seorang pemimpin apalagi pemimpin negara memiliki, kewajiban untuk peka dan sensitif terhadap kondisi rakyatnya dia tidak boleh hanya sekadar duduk di istana kemegahannya, Lalu tidak mau tahu tentang penderitaan rakyatnya. Inilah yang dilakukan oleh Umar bin Khattab, Dia takut dihadapan Allah SWT, jangan sampai apa yang dipimpin ini akan dimintai pertanggung jawaban dihadapan Allah SWT, Sementara Nabi SAW telah mentarbiyah mereka.
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
:
“Setiap dari kalian adalah pemimpin dan tiap tiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban.” (HR. Imam Bukhari)
Semakin besar dan semakin luas tanggung jawab kepemimpinan. Maka, semakin besar juga pertanggung jawaban dihadapan Allah SWT. Semestinya hal ini yang akan menjadi bahan renungan bagi mereka yang ingin menjadi pemimpin dan memiliki tanggung jawab, bukankah tanggung jawab itu semakin besar, maka Semakin besar dan semakin luas pula pertanggung jawaban dihadapan Allah SWT.
Kepekaan yang kedua yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah harus mengatasi problem yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Umar bin Khattab, Di tengah-tengah rakyat yang dipimpinnya ternyata ada fenomena yang menarik untuk segera diselesaikan dan fenomena itu adalah fenomena manipulasi. Fenomena manipulasi kebohongan-kebohongan untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan duniawi yang kalau kita tarik dalam kehidupan sekarang ini fenomena berkembangnya penipuan mungkin disebabkan karena judi online, disebabkan forex, disebakan karena ada kooperasi-kooperasi ilegal apa saja yang bentuknya adalah manipulasi yang bisa merugikan orang banyak. pemimpin tidak boleh tinggal diam harus segera membuat sebuah aturan harus segera membuat edaran untuk menyelesaikan masalah ini karena memang ini akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT.
Umar bin Khattab, tahu bahwa ini satu kesalahan yang terjadi di tengah masyarakat maka dibuatlah sebuah aturan. intinya dari aturan itu adalah pelarangan untuk membuat atau untuk menipu masyarakat inilah yang dilakukan oleh Umar bin Khattab karena dia tahu bahwa ini adalah sebuah pertanggungjawaban dihadapan Allah SWT.
Di zaman sekarang ini penipuan sudah merajalela dan seakan-akan orang yang diberikan tanggungjawab untuk mengurus masyarakat negara dan bangsa ini mereka tidak peduli, kalau pun peduli tapi mungkin tidak terlalu maksimal. Ketahuilah bahwa sesungguhnya ini akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT.
Pelajaran yang ketiga, yang bisa kita petik adalah, tidak ada ketaatan kepada makhluk bila ketaatan itu sifatnya maksiat kepada Allah SWT. Allah SWT perintahkan kita untuk taat kepada kedua orang tua, untuk berlemah-lembut kepada kedua orang tua untuk tidak menyakiti hati mereka bahkan.
فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ
“maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”. Q.S Al-Isra :32
jangan sekadar mengatakan ( uuff aahh ) itu terlarang dalam agama karena boleh jadi ungkapan dan ucapan seperti itulah yang akan menyakiti hati kedua orang tua, apalagi harus membantah apa yang mereka perintahkan. Tapi wanita tadi (putri) itu tahu bahwa sesungguhnya tidak ada ketaatan kepada makhluk bila itu bertentangan dengan apa yang dikehendaki oleh Allah SWT dan Rasulnya.
Rasulullah S.A.W bersabda,
لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق
Tidak ada ketaatan kepada makhluk bila ketaatan itu bersifat maksiat kepada Sang Khaliq.
Dia rela untuk tidak menuruti kemauan ibunya karena dia tahu kemauan ibunya itu ada kemauan yang bertentangan dengan apa yang diinginkan oleh Allah SWT dan Rasulnya. Selanjutnya dari ungkapan wanita tadi bahwa saya tidak mau sekadar mena’ati Umar bin Khattab R.A di tengah orang banyak tapi ketika kesendirian saya tidak ta’at.
Ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada pemerintah itu akan menjadi sebuah kewajiban. Ketaatan kepada pemimpin itu akan menjadi sebuah kewajiban bila ketaatan itu tidak bertentangan dengan apa yang Allah SWT kehendaki dan juga Rasulullah S.A.W inginkan. Bahkan dalam kepemimpinan-kepemimpinan kecilpun, kita diperintahkan untuk ta’at. jangankan kepada ketaatan kepada pemimpin negeri, ketaatan kepada pemimpin satu wilayah, ketaatan kepada amir atau pemimpin safar yang terdiri dari tiga orang sekalipun itu menjadi tuntutan bila itu berkenaan dengan safar.
Rasulullah S.A.W bersabda,
إذا خرج ثلاثة في سفر فَلْيُؤَمِّرُوا أحدهم
“Jika ada tiga orang keluar untuk bepergian, hendaknya mereka mengangkat seorang dari mereka sebagai pemimpin.”
(Hadis hasan) – (Diriwayatkan oleh Abu Daud)
Untuk apa pemimpin itu diangkat. ? untuk dita’ati bila ada pemimpin kalau tidak dita’ati maka tidak ada artinya kepemimpinan itu sekali lagi dengan catatan ketaatan itu tidak boleh bersifat kemaksiatan kepada Allah S.W.T. Bahkan para ulama sebutkan kalau seandainya pemimpin safar memerintahkan untuk memakai baju tertentu, warna tertentu yang sesungguhnya ini menjadi privasi kita mau pakai warna putih, warna hitam warna apa saja itu diserahkan kepada kita. Tapi kalau dengan urusan safar karena pertimbangan beberapa hal, katakanlah ketika kita akan memasuki satu wilayah yang di wilayah itu pemimpinnya berlatar belakang warna tertentu untuk kepentingan politis, lalu kemudian kita melewati itu karena kalau seandainya pakai pakaian yang sesuai dengan warna mereka maka warna itu akan membantu memudahkan urusan dalam perjalanan maka dalam kondisi seperti ini kalau pertimbangannya itu, maka kita taati.
Intinya bahwa ketaatan kepada pemimpin itu menjadi sebuah kewajiban kalau seandainya itu tidak bertentangan dengan agama. kalau pada sifat-sifat yang mubah apalagi memiliki maslahat, maka atas nama kepemimpinan sesungguhnya itu dituntut untuk kita mengikutinya.
Sidang jumlah yang dirahmati Allah SWT.
Selanjutnya sebuah perkataan yang sesungguhnya ini menjadi hal yang ingin kami titik baratkan pada edisi khutbah Jum’at kali ini. Perkataan wanita tadi apabila Umar tidak melihat kami maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Tuhannya Umar melihat kami dan ini yang disebut dengan Muraqabatullah (perasaan selalu diawasi oleh Allah S.W.T), perlu kita tumbuhkan apalagi di zaman sekarang ini orang melakukan kemaksiatan ada yang melakukan kemaksiatan secara terang-terangan ada yang melakukan secara sembunyi-sembunyi untuk orang-orang saleh, melakukan kemaksiatan secara sembunyi-sembunyi hampir sulit untuk dihindari hari ini. Tapi jiwa dan perasaan sedang diawasi oleh Allah S.W.T yang akan mengurangi atau meminimalisir bahkan menghalangi kita untuk bermaksiat kepada Allah S.W.T dalam kesendirian.
Sebuah cambuk besar dari perkataan wanita tadi menjadi cambuk untuk kita semua apabila Umar tidak melihat kami maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Tuhannya Umar maha melihat dan pasti dia melihat.
أَلَمْ يَعْلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ
Tidaklah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?
Sidang jumlah yang dirahmati Allah SWT.
Perasaan muraqabatullah sedang diawasi oleh Allah S.W.T adalah merupakan derajat tertinggi setelah Islam, Iman, yaitu Ihsan. Ihsan kata Nabi SAW sebagai bentuk jawaban terhadap pertanyaan Jibril,
فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ
Jelaskan kepadaku tentang ihsan?
أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “(Ihsan adalah) Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya.
فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
Kalaupun engkau tidak bisa melihat-Nya, sungguh Dia melihatmu.”
InsyaAllah dengan perasaan muraqabatullah kita akan terhindari dari kemasihatan-kemasihatan baik secara terang-terangan ataupun secara sembunyi-sembunyi.
Terakhir, buah jatuh tidak jauh dari pohon, pribahasa ini sering kita dengarkan, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya dan ini terjadi pada keluarga Umar bin Khattab radiyallahu ta’ala’anhu. Umar bin Khattab radiyallahu ta’ala’anhu kemudian dari keturunan Umar bin Khattab radiyallahu ta’ala’anhu dari keturunan anak ‘Asim dan wanita yang memiliki perasaan muraqabatullah melahirkan anak-anak dan cucu-cucu yang memiliki rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Ratusan tahun setelahnya muncul dari garis keturunan mereka adalah Umar bin Abdul aziz yang kita tahu bersama bahwa Umar bin Abdul ‘aziz setelah diangkat jadi khalifah dia mengembalikan seluruh fasilitas-fasilitas raja yang dia dapatkan yang sebelumnya, raja-raja sebelumnya di Bani Umayyah fasilitas itu mereka dapatkan. Dia sesungguhnya memiliki rasa takut yang sangat tinggi dihadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Konon katanya ketika Umar bin Abdul ‘aziz meninggal, anaknya tidak memiliki apa-apa, tidak meninggalkan warisan, hanya beberapa beberapa dirham. Sementara sepupunya, anak dari sepupunya atau sepupunya meninggal, meninggalkan harta yang begitu banyak.
Umar bin Abdulaziz ditanya, apakah engkau tidak merasa takut meninggalkan anak-anakmu tidak memiliki apa-apa seperti ini. Umar bin Abdul ‘aziz mengatakan, Aku tinggalkan mereka dengan Allah subhanahu wa ta’ala.
Waktu terus berlalu, Kemudian anak-anak Umar bin Abdul ‘aziz menjadi orang-orang yang memiliki keluasan rizki, bahkan menjadi orang-orang yang senang berinfak di jalan Allah subhanahu wa ta’ala. Sedangkan anak dari sepupu, dari Umar bin Abdul ‘aziz, dia lihat ada yang melihat langsung yang meriwayatkan ini, kami melihat bahwa anak-anaknya menjadi pengemis di pasar-pasar Bagdad.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْأنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الاَيَاتِ وَ ذِكْرِالحَكِيْمِ وَ تَقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمِ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Sidang jumlah yang dirahmati Allah SWT.
Selaku khatib, mengingatkan kepada kita semua bahwa di hari Jum’at seperti ini, kita dianjurkan untuk memperbanyak bersalawat kepada Nabi sallallahu alaihi wa sallam.
barang siapa yang bersalawat, satu kali salawat maka Allah subhanahu wa ta’ala akan membalas sepuluh kali lipat salawat dari Allah subhanahu wa ta’ala
Allah subhanahu wa ta’ala memulai salawat ini dengan dirinya, kemudian yang kedua memberintahkan kepada malaikat dan yang ketiga memberintahkan kepada kaum muslimin.
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
. وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ
Masjid Al-Faruq Islamic Center, Wahdah Islamiyah, Gorontalo.