Ketika Nafsu Dilepaskan, Harga Diri Terseret.
Hari ini,
Kita menyaksikan betapa zina dinormalisasi,
dibungkus kata “pacaran”, “cinta”, “hak pribadi”,
lalu dirayakan di media sosial seolah sebuah kebanggaan dengan terang-terangan.
Remaja yang seharusnya menjaga masa depan,
kini sibuk mengejar cinta palsu.
yang ujungnya menghancurkan kehormatan.
Tubuh dirusak, hati dinistakan.
Hamil di luar nikah dianggap biasa.
Penyakit kelamin merajalela,
bahkan HIV/AIDS merenggut nyawa mereka yang terlalu percaya pada nafsu.
Dan ketika zina tak lagi cukup membakar,
muncullah penyimpangan yang lebih keji :
LGBTQ+,
sebuah fitnah zaman yang mengajak manusia menentang fitrah ilahi.
Padahal Allah ta’ala telah berfirman:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)
Mereka mencari bahagia dalam pelukan dosa,
padahal dosa hanya meninggalkan luka dan kehinaan.
Kesucian bukan lagi kebanggaan,
tapi dianggap kuno dan kolot.
Padahal, kesucian adalah kemuliaan. Menjaga diri adalah kekuatan, Menolak zina adalah kemenangan.
Jika kita diam, siapa yang akan menyelamatkan generasi ini?
Mari suarakan kembali bahwa:
🚫 Pacaran itu pintu zina.
🚫 Zina itu dosa besar.
🚫 Dosa akan membusukkan tubuh, menghitamkan hati, dan menghancurkan masa depan.
Wahai Wanita…
Kembalilah.
Sebelum terlambat.
Jaga hatimu, jaga tubuhmu, jaga kehormatanmu !
Karena kehormatan lebih mahal dari sekadar cinta murahan.
Ajak teman-temanmu untuk sadar.
Tahan diri untuk taat.
Istiqamah di tengah derasnya arus syahwat.
Karena bertaqwa di zaman fitnah adalah kemenangan yang tak semua orang mampu raih.
19 Juli 2025 @ 6:55 am
Miris sih, tapi begitulah yg terjadi skrg 😞