Kata القواعد adalah bentuk jamak dari kata قاعدة. Sedang makna qo’idah adalah pokok yang bercabang darinya berbagai macam masalah dan cabang yang banyak sekali. Sedangkan kandungan isi dari empat kaidah yang disebutkan oleh Asy-Syaikh رَحِمَهُ ٱللَّٰهُ adalah pengetahuan tentang tauhid dan syirik.
Apa kaidah-kaidah dalam perkara tauhid .? Apa kaidah-kaidah dalam perkara syirik .? Karena mayoritas dari kalangan manusia bertindak dengan serampangan tanpa petunjuk didalam dua masalah ini. Mereka meraba-raba apa sebenarnya makna tauhid. Dan mereka meraba-raba tentang makna syirik. Masing-masing manafsirkan keduanya sesuai dengan hawa nafsunya.
Akan tetapi, yang wajib bagi kita adalah mengembalikan penetapan kaidah-kaidah kita kepada Al-kitab dan As-sunnah, agar penetapan kaidah-kaidah tersebut benar dan selamat karena diambil dari kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ. Terlebih lagi dalam dua perkara yang besar ini, yaitu : masalah tauhid dan syirik.
As-Syaikh رَحِمَهُ ٱللَّٰهُ , tidaklah menyebutkan empat kaidah pokok ini dari dirinya sendiri atau dari hasil buah pemikirannya sebagaimana yang dilakukan oleh mayoritas orang-orang yang serampangan. Akan tetapi beliau رَحِمَهُ ٱللَّٰهُ mengambil emapat landasan ini dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ serta sirah (perjalanan hidup) beliau ﷺ.
Apabila anda telah mengetahui kaidah-kaidah ini dan memahaminya, maka akan mudah bagi kita setelahnya untuk mengetahui perkara tauhid, yang dengannnya Allah Ta’ala mengutus para Rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitabNya. Juga mudah bagi anda kita mengetahui kesyirikan yang senantiasa diperingatkan oleh Allah untuk diwaspadai, dijelaskan bahaya-bahaya dan kerusakan yang ditimbulkannya di dunia dan di akhirat.
Perkara ini sangat penting sekali. Perkara inilah yang akan menggiring kita dapat mengetahui hukum-hukum shalat, zakat, peribadatan-peribadatan lain dan seluruh perkara agama ini. Karena perkara ini (pengetahuan tentang tauhid dan kesyirikan). Merupakan perkara yang paling awal dan asasi. Sebab shalat, zakat, haji dan ibadah yang lain tidak sah apabila tidak dibangun di atas dasar Aqidah yang benar, yaitu tauhid yang murni untuk Allah Ta’ala.
فَإِذَا عَرَ فْتَ أَنَّ الشِّرك إِذَا خَالَطَ الْعِبَادَةَ أَفْسَدَهَا وَأَحْبَطَ الْعَمَلَ وَصَارَ صَاحِبُهَ مِنَ الخَالِدِينَ فَي النَّارِ، عَرَفْتَ أَنَّ أَهَمَّ مَا عّلَيكَ مَعْرِفَةُ ذَلِكَ، لَعَّلَ الله أَنْ يُخَالِصَكَ مَنْ هَذَهِ الشَّبْكَةِ، وَهِيَ الشَّركُ بِا اللهِ، الذِيْ قَالَ الله تَعَالى فِيْهِ : إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ ماَ دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشآءُ .٤٨ النسء :٤٨.
وَذَلِكَ بِمَعْرِفَةِ أَرْبَعَ فَوَا عِدَ ذَكَرَهَا الله تَعَالَى فِي كِتَابِهِ :
Jika anda telah mengetahui bahwa kesyirikan apabila mencampuri peribadatan, maka akan merusakkan peribadatan tersebut dan akan menghapuskan amalan serta menjadikan pelakunya kekal di neraka, maka anda akan mengetahui bahwasannya perkara yang paling penting atas kalian adalah mengetahui perkara tersebut. Semoga Allah Ta’ala akan membebaskan dari Ays-Syakbah ini, yaitu kesyirikan yang dikatan oleh Allah Ta’ala.
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. (An-Nisaa : 48)
yang demikian itu dengan mengetahui empat kaidah yang telah Allah Ta’ala sebutkan di dalam kitabnya. Perkataan Asy Syaikh رَحِمَهُ ٱللَّٰهُ “Jika anda telah mengetahui bahwa kesyirikan apabila mencampuri peribadatan, maka akan merusakan peribadatan tersebut dan akan menghapuskan amalan serta menjadikan pelakunya kekal di neraka…” maksudnya , selama kamu tahu benar tentang tauhid yaitu mengesahkan Allah Ta’ala dalam beribadah, maka wajib bagimu untuk mengetahui apa itu syirik. Sebab orang yang tidak mengetahui sesuatu, pasti dia akan terjatuh padanya. Sehingga menjadi satu keharusan begimu untuk mengetahui jenis-jenis kesyirikan agar bisa menajuhinya. Sebab Allah Ta’ala telah memperingatkan dari perbuatan kesyirikan itu, sebagaimana firmannya :
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. (An-Nisaa : 48)
itulah kesyirikan yang begitu dahsyat bahayanya, yaitu diharamkan masuk surga :
إِنَّهُۥ مَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ ٱلْجَنَّةَ
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga”.
Dan diharamkan magfirah :
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik”
Ini adalah bahaya yang sangat besar. Wajib bagimu untuk mengetahui sebelum segala bahaya-bahaya tersebut. Sebab kesyirikan itu telah menghilangkan akal-akal dan pemahaman-pemahaman, untuk kita mengetahui apakah kesyirikan yang diterangkan di dalam Al-Qur’an dan As-sunnah. Tidaklah Allah,
قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَمَن يُخْرِجُ ٱلْحَىَّ مِنَ ٱلْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ ٱلْمَيِّتَ مِنَ ٱلْحَىِّ وَمَن يُدَبِّرُ ٱلْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ ٱللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
Katakanlah : “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya) ?”.
Kaedah Pertama :
Hendaknya kamu mengetahui bahwa orang-orang kafir yang telah diperangi oleh Rasulullah ﷺ adalah orang-orang yang mengakui Tauhid Rububiyyah, akan tetapi pengakuan mereka terhadap Tauhid Rububiyyah belumlah memasukan mereka ke dalam islam, dan tidak menjadikan diharamkannya darah dan harta benda mereka.
Dari sini menunjukan bahwa sesungguhnya, Tauhid itu bukanlah sekedar pengakuan tentang Tauhid Rububiyyah semata. Dan juga kesyirikan itu tidak hanya sebatas kesyirikan dalam Rububiyyah semata. Bahkan tidak ada seorangpun yang menyekutukan Allah dalam hal Rububiyyah, kecuali segelintir orang yang nyeleneh. Sebab setiap umat mengakui Tauhid Rububiyyah.
Tauhid Rububiyyah adalah pengakuan bahwa Allah Ta’ala adalah pencipta, pemberi rezeki, yang menghidupkan yang mematikan dan yang mengatur, atau dengan istilah yang lebih ringkas, mengesahkan Allah Ta’ala di dalam perbuatan-perbuatannya.
Tidak ada satu makhluk pun yang mengakui bahwa ada pencipta lain yang mencipta bersama Allah Ta’ala, atau ada yang memberi rezki selain Allah, atau menghidupkan dan mematikan. Bahkan, orang-orang musyrikpun mengakui bahwa Allah Ta’ala adalah satu-satunya pencipta, pemberi rezeki, yang menghidupkan, yang mematikan dan yang mengatur segala sesuatu :
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُ ۚ قُلِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ
“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. (Lukman : 25)
قُلْ مَن رَّبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ ٱلسَّبْعِ وَرَبُّ ٱلْعَرْشِ ٱلْعَظِيمِ
Katakanlah : “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?”
سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۚ
Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Al-mukminun : 86-87
Ayat-ayat terakhir dari surat al-mukminun, mendapati bahwa kaum musyrikin mengakui tentang Tauhid Rububiyyah.
Demikian juga pada surat Yunus :
قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَمَن يُخْرِجُ ٱلْحَىَّ مِنَ ٱلْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ ٱلْمَيِّتَ مِنَ ٱلْحَىِّ
.وَمَن يُدَبِّرُ ٱلْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ ٱللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?”
Mereka adalah orang-orang yang mengakui hal itu.
Tidaklah tauhid itu hanya sebatas mengakui tauhid Rububiyyah seperti yang dikatakan oleh ahlul kalam (semisal ahli filsafat) di dalam keyakinan mereka. Mereka menetapkan bahwa tauhid itu adalah keyakinan bahwa Allah Ta’ala itu adalah pencipta, pemberi rezeki, yang mematikan dan yang menghidupkan. Sehingga mereka mengatakan : “Allah itu esa Dzat-Nya, tidak berbilang, esa dalam sifat-sifatnya, tiada yang menyerupainya, esa dalam perbuatan-perbuatannya, tidak ada sekutu baginya”. Ini tidak lain tauhid rububiyyah. Rujuklah dalam kitab mana saja dari kitab-kitab para ulama ahlul kalam, maka kalian akan mendapati mereka tidak keluar dari seputar Tauhid Rububiyyah. Ini bukanlah tauhid yang dengannya Allah mengutus para Rasul. Menyakini hal ini semata tidak memberikan manfaat bagi pelakunya. Sebab yang seperti ini diakui kaum musyirikin dan orang-orang kafir.
Namun, semua itu tidak mengerluarkan dari kekufurannya dan tidak pula memasukan mereka ke dalam islam ini. Keyakinan itu adalah kesalahan besar. Barangsiapa berkeyakinan seperti itu, maka tidaklah melebihi dari apa yang diyakini oleh Abu Jahl dan Abu Lahab. Serta keyakinan yang dianut sebagaian al-mutsaqqifin (ahli pendidikan dan kebuayaan) hanyalah sebatas pengakuan Tauhid Rububiyyah semata. Mereka tidak berusaha menuju kepada tauhid Uluhiyyah. Yang demikian ini adalah suatu kesalahan yang besar dalam mendefinisikan (mengartikan) tauhid.
Adapun tentang kesyirikan, mereka mengatakan yaitu kamu meyakini bahwa ada selain Allah yang mencipta bersama Allah Ta’ala atau ada yang memberikan rezki selain Allah Ta’ala. Kita katakan, yang seperti ini tidak pernah diucapkan oleh Abu Jahl dan Abu Lahab. Mereka (kaum musyrikin zaman dahulu) tidak pernah mengatakan bahwa ada yang mencipta bersama Allah dan memberikan rezeki bersama Allah. Bahkan, mereka mengakui bahwa Allah Ta’ala adalah satu-satunya pencipta, pemberi, rezki, yang menghidupkan dan yang mematikan.
Masjid Al-Faruq Islamic Center Wahdah Islamiyah.
Kajian oleh : Ust. Khalid Walid, Lc.,M.Pd.,MA (Alumni Universitas Islam Madinah)
15 Muharram 1447 H
Kaidah pertama, Rangkuman buku Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab pada abad ke-18. Syarh Qowa’idul Arba’ oleh Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan حفظه الله