BUKU YANG MEMPERTEMUKAN KITA
BUKU YANG MEMPERTEMUKAN KITA
Sedikit cerita…
Semalam, Putri kami meminta untuk disimak hafalannya. Bait demi bait syair Arab dilantunkannya dari sebuah buku tua yang terlihat lusuh… tapi bukan sembarang buku. Saat menatap sampulnya, senyum saya mengembang… ada kenangan, ada jejak, ada takdir yang indah di sana.
Buku itu adalah kitab “الأدب” — buku mata kuliah kami saat masih di I’dad Lughawi, mustawa rabi’ (semester 4) buku yang mempelajari sastra dan keindahan Bahasa Arab. Yang ajib, buku ini telah menyatukan tiga generasi ilmu dalam keluarga kami: abi, umi, dan kini putri kami.
Di halaman depannya, tertera nama pemilik pertamanya “يوسف“. Kala itu, sekitar tahun 2000–2002, abinya sedang menempuh kuliah I’dad Lughawi di LIPIA Jakarta. Hingga selesai masa I’dad, buku ini selalu bersamanya.
Beberapa tahun kemudian, saat saya masih menuntut ilmu di STIBA Akhwat Makassar (2002–2004), saya meminta bantuan sepupu yang kuliah di LIPIA untuk mengirimkan buku-buku I’dad secara kurikulum kami sama.
Tak disangka, buku yang dikirimkan adalah milik temannya (yang hari ini menjadi suami)^
Tapi kala itu, saya dan suami tidak saling kenal, yang saya ingat bahwa saya butuh buku dan sangat senang ketika dikirimkan dari LIPIA tanpa harus beli buku cetak lagi, alhamdulillah
Mulailah lembar demi lembar saya pelajari dengan penuh semangat, catatan demi catatan saya bubuhkan disela penjelasan dosen. Dan dibuku ini pula sudah ada catatan dan coretan dari si empu buku sebelumnya, yang itu sangat membantu (secara untuk memhami sastra butuh kedalaman makna)
Maka buku ini menyimpan dua gaya tulisan: satu dari dia (yang kala itu adalah mahasiswa LIPIA), satu lagi dari saya, mahasiswi I’dad yang jauh di Makassar.
Waktu bergulir…
Tak disangka, kini ditahun 2025. Putri kami menempuh kuliah di LIPIA Surabaya, dan saya… adalah salah satu dosennya. Subhanallah, ia memilih buku ini bukan versi cetakan baru, padahal mudah ia dapatkan.
“Kenapa memilih buku ini, nak?”
Dia menjawab sambil tersenyum:
“Karena buku ini istimewa… ada catatan abi dan umi semasa kuliah.”^
Dan kini…lembar-lembar buku itu kembali hidup. Ada tulisan baru tulisan sang putri. Maka bertambahlah jejak cinta, ilmu, dan perjuangan
Maa sya Allah…takdirNya lah yang mengumpulkan kami bertiga dengan buku yang sama, dan masih ada beberapa buku yang lain
Suami yang kala itu menggunakan buku ini, mungkin tak pernah terbesit bahwa buku yang sama akan dipakai oleh calon istrinya^ (karena ia mengira temannya akan mengirim buku-buku itu untuk sepupu laki-lakinya) Subhanallah…
Saya pun tak pernah menyangka, bahwa anak yang belum hadir di rahim, kelak akan menapaki jejak kami dengan kitab yang sama…
Dan tahukah…hingga kami menikah, saya belum menyadari bahwa buku yang saya gunakan dulu adalah milik suami, sementara buku-buku itu masih saya simpan dengan rapi, hingga kami kembali dari rantau penuntutan ilmu bukulah yang terus kami bawa, entah mungkin setelah setahun dua tahun pernikahan barulah kami berdua menyadari tentang buku-buku itu
Setelah saya mengenal bentuk tulisan suami dan membaca kembali nama yang tertulis disampul buku
“Ahh…jadi ini bukumu ya, yang sekarang dipakai anak kita.”
Walillahil hamdu.
Takdir Allah begitu indah.
Satu buku, satu ilmu, tiga jiwa dipertemukan dalam cinta
Penulis : Dr. Erwinda Zakaria, Lc
Surabaya, 11 Mei 2025