Empat kaedah memahami tauhid, kaedah kedua.
أَنْهُمْ يَقُولُنَ : ما دَعَونَاهُمْ وَتَوَ جَّهْنَا إِلَيهِمْ إِلاَّ لِطَالَبِ الْقُرْبَةِ وَالْشَفَاعَةِ. فَدَلِيلُ الْقُربَتِ قَولُهُ تَعَالَى : وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلْفَىٰٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِى مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى مَنْ هُوَ كَٰذِبٌ كَفَّارٌ
Kaedah Kedua, Bahwasannya merak mengatakan : “ Tidaklah kami berdoa kepada mereka dan tdaklah kami menghadapkan wajah kepada mereka itu kecuali untuk mendekatkan diri dan mencari syafat’at.”
Adapun dalil tentang al-Qurbah yang diucapkan mereka tertera dalam Allah Ta’ala :
وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلْفَىٰٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِى مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى مَنْ هُوَ كَٰذِبٌ كَفَّارٌ
Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (Az-Zumar :3)
Bahwa kaum musyrikin, yang diberi nama oleh Allah sebagai orang Musyrik dan dihukumi kekal dineraka, mereka tidaklah menyekutukan Allah dengan yang lain dalam hal Rububiyah. Hanya saja mereka menyekutukan Allah dalam hal Ulihiyah. Mereka tidak mengatakan bahwa ilah-ilah mereka itu mampu mencipta dan memberi rizki Bersama Allah Ta’ala. Mereka tidak mengatakan bahwa ilah-ilah mereka mampu memberikan manfaat, memudharatkan atau mampu mengatur Bersama Allah Ta’ala. Hanya saja meraka telah menjadikan ilah-ilah yang mereka ibadahi itu sebagai pemberi syafa’at bagi mereka, sebagaimana yang telah Allah katakana tentang mereka dalam ayat-Nya :
وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ
“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. (Yunus : 18)
Mereka mengakui hal ini, yaitu bahwa sesungguhnya ilah-ilah yang mereka ibadahi itu tidaklah mampu memberikan manfaat dan mendatangkan bencana, hanya saja mereka menjadikan sesembahan mereka itu sebagai pemberi syafa’at. Yaitu, perantara disisi Allah Ta’ala di dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Mereka menyembelih ternakh untuk mereka dan ber-nadhzar untuk mereka, bukan dikarenakan bahwa ilah-ilah tersebut mampu mencipta, memberi rezeki atau mampu memberi manfaat dan mendatangkan bencana menurut keyakian mereka. Hanya saja mereka sebagai perantara,pemberi syafa’at bagi mereka disisi Allah Ta’ala. Itulah keyakinan kaum musyrikin.
Sekarang ini jika kamu mendebat penyembah kubur, makai a akan mengatakan sama dengan ucapan di atas. Ia akan mengatakan, “saya tahu bahwa wali ini atau orang shalih ini tidak mampu memberikan manfaat. Akan tetapi ia adalah seorang yang shalih dan aku ingin mendapatkan syafa’at darinya di sisi Allah Ta’ala.
Syafa’at itu ada yang Haq (Benar) dan ada juga yang batil. Syafa’at yang haq dan benar adalah syafa’at yang memenuhi dua syarat :
Syarat yang pertama, adanya ijin dari Allah Ta’ala
Syarat yang kedua, seorang yang berhak mendapatkan syafa’at adalah tergolong dari ahli tauhid, yakni dari kalangan orang-orang yang berbuat maksiat dari kalangan orang-orang yang bertauhid.
Dan jika hilang salah satu syarat dari dua syarat tersebut, maka syafa’at tersebut adalah syafa’at yang batil. Firman Allah Ta’ala
مَن ذَا ٱلَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِ
Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? (al-baqarah : 255)
Dan firman Allah Ta’ala :
وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ٱرْتَضَىٰ
dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah. (al-anbiyaa : 28)
mereka adalah orang-orang yang bermaksiat dari kalangan orang- orang yang bertauhid. Adapun orang-orang kafir dan kaum musyrikin, maka tidak akan bermanfaat syafa’atnya orang yang dapat memberi syafaat :
مَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ
“Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya.” (Ghofir : 18)
Kaum musyrikin mendengat tentang syafaat akan tetapi tidak mengetahui makna syafa’at. Mereka mencari syafa’at kepada orang-orang tersebut tanpa adanya izin dari Allah Ta’ala. Bahkan mereka mencari syafa’at dari orang-orang yang berbuat kesyirikan kepada Allah Ta’ala, yang tidak bermanfaat baginya syafa’at. Mereka itu tidak mengetahui makna syafa’at yang benar ataupun yang batil.
Makhluk yang paling utama dan penutup para Nabi yaitu Muhammad ﷺ Ketika beliau ingin memberikan syafa’at kepada ahli mauqif pada ari kiamat nanti, beliau menyungkurkan diri, sujud kepada Rabbnya, memohon, memuji, dan menyanjung-Nya dan terus-menerus dalam keadaan bersujud sampai dikatakan kepada beliau :
ارْفَعْ رَأْسَكَ وَقُلْ تُسْمَعْ وَاسْفَعْ تُسْفَعْ
“Angkatlah kepalamu dan berbicaralah, niscaya bicaramu akan didengar, dan berilah syafaat maka syafa’atmu akan diterima”.
Hadist ini adalah bagian dari hadist yang Panjang yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari nomor (7510) dalam kitab Tauhid, bab : “Kalamur Rabbi yaumal Qiyamah ma’al Anbiyaa’ wa ghoirihim”. Dan Imam muslim nomor (193) dalam kitabul iman, bab “Adna Ahlil Jannah manzilatan fiiha”. Dari hadist Anas bin Malik”.
Syafa’at yang dinafikan itu adalah syafa’at yang dicari selain dengan izin dari Allah dan untuk orang-orang musyrik.
Adapun syafa’at yang ditetapkan adalah syafa’at yang ada setelah izin Allah Ta’ala dan untuk orang-orang yang bertauhid.
Masjid Al-Faruq Islamic Center Wahdah Islamiyah.
Kajian oleh : Ust. Khalid Walid, Lc.,M.Pd.,MA (Alumni Universitas Islam Madinah)
2 Safar 1447H
Kaidah kedua, Rangkuman buku Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab pada abad ke-18. Syarh Qowa’idul Arba’ oleh Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan حفظه الله
Penyunting : arif kau,ST